Blog EntryKenapa Kita Cinta Dorama???May 10, '07 1:05 AM
for everyone

Source from : http://www.doramalover.com/news.php?a=d;35

Drama Jepang: Kurang Dikenal Orang Indonesia

Drama Jepang? Apaan tuh? Jarangnya drama Jepang di TV lokal bikin drama Jepang ga familiar buat masyarakat Indonesia. Kalaupun orang tau drama Jepang, mereka taunya Tokyo Love Story, Ordinary People, Under The Same Roof atau Anything For You... drama-drama jaman jebot yang diputer jaman kita masih SD-SMP-SMA. Yang tahu bahwa drama Jepang masih rutin dirilis di negara asalnya tu ga banyak... salah satunya ya kita-kita ini.

Apa Sih Yang Bikin Kita Doyan Drama Jepang?

Iriekotoko, salah satu fans drama Jepang bilang, "Semua yang diceritain di drama Jepang begitu pure dan realistis. Ga semuanya tentang cinta... Topiknya sejibun n ga terbatas... Dan walopun bukan tentang cinta, tetep menarik n ada aja hal-hal berarti yang bisa diambil..."

Oke. Itu Satu: Tema Yang Luar Biasa Variatif

Percaya ngga, drama Jepang ga cuma mengangkat tema cinta dan keluarga (sebagaimana seringkali dituduhkan ^-^), tapi juga tema yang jauh lebih kompleks. Politik jujur dan bersih, misalnya? Ada
Kunimitsu no Matsuri . Kehidupan bisnis yang baik? Ada Koi no Ochitara. Betapa susahnya jadi guru yang dicintai murid-muridnya? Gokusen, GTO (Great Teacher Onizuka) dan Dragonzakura mungkin bisa bikin kita sadar bahwa profesi yang sering kita kata-katain di masa lalu ini adalah profesi yang sebetulnya sangat sulit... Bahkan kitapun jadi respek ama polisi setelah melihat Odoru Daisousassen.

Masih banyak lagi. Kehidupan para pemadam kebakaran di Fireboys atau para dokter di ruang UGD bisa disimak di Emergency 24 Hours. Profesi petinju (To Heart), pembalap (Engine) dan pilot (Good Luck) serta pramugari (Attention Please! dan Big Wing) bahkan dibahas dari pendekatan personal yang sangat manusiawi. Memang, hampir semua drama Jepang mengangkat topik cinta, tapi dengan porsi yang berbeda-beda.

Dua: Sederhana, Detail dan Menyentuh

Simak Under The Same Roof atau Be With You. Adegan-adegan yang ditampilin sebenernya biasa banget. Adegan makan malem, rutinitas "Saya pergi dulu," "Saya pulang," "Selamat tidur," jadi hal yang bikin kita terharu. Apalagi di Under The Same Roof dikisahkan bahwa dulunya, setiap anggota keluarga itu tinggal sendiri, dan setiap malam pulang ke rumah yang kosong, ga ada orang yang bisa diucapin "Saya pulang," ....

So common, happens at our family all the time... Semuanya itu dialog dan hal-hal yang terjadi dalam keluarga kita setiap hari. Tapi kenapa kita ga sadar dan ga menghargai itu? Di tengah keributan dalam keluarga sekalipun, ada sesuatu yang indah, yang selama ini ga kita notice. Bahwa ada cinta dan perhatian, yang seringkali dibungkus hal yang berbeda.

Simak Oyaji. Fokusnya adalah gimana seorang ayah yang killer mendidik anak-anaknya... Lewat drama Jepang yang satu ini kita jadi belajar melihat dari sisi lain: bahwa babe kita (yang kolot, yang sangar, yang protektif, yang nyebelin) ternyata sayang sekali ama kita, dan punya alesan kuat kenapa bersikap kaya gitu.

Tiga: Menyajikan Realitas Kehidupan

Miranti, fans drama Jepang lainnya nambahin, "Dalam drama Jepang nggak ada yang hitam benar-benar hitam, yang putih benar-benar putih, selalu ada alasan dibalik semua kejadian, dan menurut gw justru itulah yang menggambarkan realitas sebenarnya. Emangnya ada gitu orang yang memang dari lahir sudah jahat, yang nggak peduli sama kondisi sekitar, nggak peduli ngelakuin apa asal tujuannya tercapai?

Atau ada gitu orang yang kerjaanya nangisssss mlulu, yang kesannya pasrah, padahal emang nggak niat mau ngapa-ngapain, males, maunya cuma dikasihani doang, yang kesannya nggak punya energi untuk menyuarakan pendapatnya sendiri?"

Yup, mungkin ada, tapi kayanya kita lebih sering ngeliat orang jahat yang ga kelihatan jahat atau justru orang baik yang ternyata ga sebaik yang kita kira. Selain itu, kata Dian, "Yang lebih penting bagi gw sebenarnya pesen apa yang kita dapet sesudah kita nonton,"

Buat kita-kita ini, nonton drama Jepang bukan cuma untuk dapetin hiburan, tapi juga suntikan semangat akan hidup yang lagi kita jalanin. Kita pingin selalu diingingetin untuk selalu hormat ama orang tua, untuk selalu mendengarkan hati nurani, untuk selalu percaya akan sebuah value kerja keras, yang rasanya lebih menentramkan daripada nonton tayangan glamour yang kecil kemungkinan bakal terjadi dalam kehidupan kita. Itu kita. Bagaimana dengan kamu?

 Empat: Endingnya Ga Selalu Hepi, Just Like Our Life.

Drama Jepang dikenal sebagai tontonan yang ga ragu-ragu ngasi sad-ending. Dia ga takut mengecewakan penonton, malah yang ada, kita yang dibikin penasaran bin deg-degan lantaran ga kebayang endingnya bakal kaya gimana. Love 2000, God Give Me More Time (Kamisama) dan Sekai no chuushin de, ai o sakebu adalah beberapa yang ga segan-segan menutup cerita secara tragis... dan terbukti hal itu ga mempengaruhi tingginya rating drama-drama tersebut.

Kalau dipikir-pikir, hidup memang seperti itu. Ga selalu apa yang kita harepin terwujud. Kalau Kyoko ga meninggal di Beautiful Life, bukankah drama satu ini jadi terkesan dibuat-buat? Kalau Rika jadian ama Kanchi di Tokyo Love Story, apa bedanya drama ini dari drama percintaan biasa? Kalau Shunsuke ga buta di ending Itoshi Kimie, bukankah kita malah jadi bertanya-tanya, what's the point of the story? \

Hidup ga selalu happy end... that's for sure. Dan hal ini yang bikin kita merasa dekat ama drama Jepang. Hidup ga pernah sempurna, yang jadi tugas kita: gimana caranya mensyukuri yang ga sempurna itu dan selalu berusaha membuatnya jadi lebih baik dengan segenap usaha.

GANBATTE! Itu sebuah kata yang selalu ada dalam setiap drama Jepang. Berusahalah semaksimal mungkin dalam segala hal! Entah dalam percintaan, dalam dunia sekolah, dalam pekerjaan... semuanya.

Lima: Belajar Mensyukuri Segala Hal

DL angkat topi buat film kaya Messengers, yang berkisah soal petugas pengantar surat yang tugasnya nganter surat dari satu kantor ke kantor lainnya. Bisa aja kisahnya dibikin jadi kisah duka-lara tentang orang miskin yang saking miskinnya kepaksa jadi pengantar surat... tapi di sini, yang diangkat adalah sisi positifnya; value kerja keras, bangga pada pekerjaan yang dilakukan dan pantang meng-underestimate orang lain dan pekerjaannya.

Di drama Jepang, kita diajarin buat menghargai pekerjaan apapun yang kita punya; bukannya terus-terusan mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bekerja dengan hati, meski "cuma" jadi office lady (Matsu Takako di Love Generation), "cuma" jadi karyawan toko es krim (Kyoko Fukada di To Heart) atau "cuma" jadi petugas perpustakaan (Kyoko di Beautiful Life). Semua dilakuin dengan penuh kebanggaan: THIS IS MY JOB & I'LL DO MY BEST WITH IT.

Kenapa Drama Jepang Ga Booming di Indo...

Masih analisa Miranti, yang menurut DL ada benarnya. "Dorama nggak terlalu booming di Indonesia karena menurut gue, orang Indonesia belum terlalu bisa nerima cerita yang biasa, yang simple, yang nggak neko-neko."

Bisa jadi. Soalnya kalo dibedain ama tayangan Indonesia yang ratingnya tinggi, drama Jepang bisa dibilang kontras banget. Drama Jepang cenderung datar dan ga heboh. Yang dibahas cuma kisah sehari-hari. Ditambah lagi, gaya bercerita Jepang cenderung halus dan dalem. Marah ga dikasi liat dengan teriakan atau bantingan pintu. Sedih ga diceritakan dengan tangis terisak-isak, seringkali hanya mata berkaca-kaca atau pundak gemetar yang disorot dari belakang.

SekaChuu (Sekai no chuusin...), Kimi ga Kiete Kureta Koto (Things You Taught Me / From the Heart) salah satunya. Kisah soal Mayuko yang autis ini diceritain super halus... bahkan ketika hubungan Mayuko dan Shinichi ga disetujui, ga ada kisah heboh soal 'kawin lari' atau 'bunuh diri bareng' sebagai perwujudan cinta. Yang ada, keduanya tetep menjalani kehidupan masing-masing dan pada akhirnya orang tua Mayuko mengenal Shinichi lebih jauh lalu merestui hubungan keduanya. Memang ga segampang itu, dan ga semua kisah berakhir seindah itu, tapi setidaknya drama Jepang yang satu ini ngga selalu mengangkat cinta sebagai hal yang harus disikapi berlebihan...

Di Ichi Ritoru no Namida, Haruto yang baru mulai kuliah dikisahkan mundur teratur dari cintanya pada Aya yang menderita sakit tak tersembuhkan, sebuah reaksi wajar, bertentangan dengan sinetron jiplakannya yang menceritakan semangat si tokoh utama pria menikahi Nayla (versi jiplakan Aya di doramanya), yang akhirnya meninggal di hari pernikahannya... (gubragh! ups, gomen ^^)

Satu lagi yang perlu digarisbawahi dari drama Jepang: episodenya ga pernah dipanjang-panjangin. Setinggi apapun rating drama itu, pantang bagi Jepang untuk melanjutkan cerita dengan tambahan-tambahan yang ga seharusnya. Kalaupun ada sekuelnya, drama Jepang biasanya sukses membuat sekuel yang ga kalah bagus ama serial awalnya. Simak Under The Same Roof 2, Waterboys 2, Gokusen 2, Trick 2 (bahkan sampe Trick 3)

Kontras dengan tayangan lokal kita kan? :D Mungkin itu sebabnya, sebagian dari kita memilih rutin ngoleksi drama Jepang, meski harus kebakaran jenggot hunting kesana-kemari, daripada nyalain TV dan nyimak tayangan-tayangan di dalemnya... Gomenasai! :)

Credit: Niqh, Miranti, Dian, Iriekotoko

Buat nambahin :

1. Jadi tontonan alternatif karena sinetron Indonesia makin nggak jelas juntrungannya.....

2. Bebas ditonton kapan aja karena dvdnya banyak dijual bebas, jadi nggak usah spesial ngeluangin waktu untuk mantengin tv (yg notabene serial2 Indonesia kan tayang seminggus ekali dan bisa berbukan2 baru kelar....)

3. Nggak bikin sakit mata krn make up pemainnya natural banget ....nggak (lagi2 ngebandingin...) kayak sinetron kita yg mau tidur aja make-upnya polllll.....


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help