|
Source from : http://www.doramalover.com/news.php?a=d;35
Drama Jepang: Kurang Dikenal Orang Indonesia
Drama
Jepang? Apaan tuh? Jarangnya drama Jepang di TV lokal bikin drama
Jepang ga familiar buat masyarakat Indonesia. Kalaupun orang tau drama
Jepang, mereka taunya Tokyo Love Story, Ordinary People, Under The Same Roof atau Anything For You...
drama-drama jaman jebot yang diputer jaman kita masih SD-SMP-SMA. Yang
tahu bahwa drama Jepang masih rutin dirilis di negara asalnya tu ga
banyak... salah satunya ya kita-kita ini.
Apa Sih Yang Bikin Kita Doyan Drama Jepang?
Iriekotoko, salah
satu fans drama Jepang bilang, "Semua yang diceritain di drama Jepang
begitu pure dan realistis. Ga semuanya tentang cinta... Topiknya
sejibun n ga terbatas... Dan walopun bukan tentang cinta, tetep menarik
n ada aja hal-hal berarti yang bisa diambil..."
Oke. Itu Satu: Tema Yang Luar Biasa Variatif
Percaya ngga, drama Jepang ga cuma
mengangkat tema cinta dan keluarga (sebagaimana seringkali dituduhkan
^-^), tapi juga tema yang jauh lebih kompleks. Politik jujur dan
bersih, misalnya? Ada Kunimitsu no Matsuri . Kehidupan bisnis yang baik? Ada Koi no Ochitara. Betapa susahnya jadi guru yang dicintai murid-muridnya? Gokusen, GTO (Great Teacher Onizuka) dan Dragonzakura
mungkin bisa bikin kita sadar bahwa profesi yang sering kita
kata-katain di masa lalu ini adalah profesi yang sebetulnya sangat
sulit... Bahkan kitapun jadi respek ama polisi setelah melihat Odoru Daisousassen.
Masih banyak lagi. Kehidupan para pemadam kebakaran di Fireboys atau para dokter di ruang UGD bisa disimak di Emergency 24 Hours. Profesi petinju (To Heart), pembalap (Engine) dan pilot (Good Luck) serta pramugari (Attention Please! dan Big Wing)
bahkan dibahas dari pendekatan personal yang sangat manusiawi. Memang,
hampir semua drama Jepang mengangkat topik cinta, tapi dengan porsi
yang berbeda-beda.
Dua: Sederhana, Detail dan Menyentuh
Simak Under The Same Roof atau Be With You.
Adegan-adegan yang ditampilin sebenernya biasa banget. Adegan makan
malem, rutinitas "Saya pergi dulu," "Saya pulang," "Selamat tidur,"
jadi hal yang bikin kita terharu. Apalagi di Under The Same Roof
dikisahkan bahwa dulunya, setiap anggota keluarga itu tinggal sendiri,
dan setiap malam pulang ke rumah yang kosong, ga ada orang yang bisa
diucapin "Saya pulang," ....
So
common, happens at our family all the time... Semuanya itu dialog dan
hal-hal yang terjadi dalam keluarga kita setiap hari. Tapi kenapa kita
ga sadar dan ga menghargai itu? Di tengah keributan dalam keluarga
sekalipun, ada sesuatu yang indah, yang selama ini ga kita notice.
Bahwa ada cinta dan perhatian, yang seringkali dibungkus hal yang
berbeda.
Simak Oyaji.
Fokusnya adalah gimana seorang ayah yang killer mendidik
anak-anaknya... Lewat drama Jepang yang satu ini kita jadi belajar
melihat dari sisi lain: bahwa babe kita (yang kolot, yang sangar, yang
protektif, yang nyebelin) ternyata sayang sekali ama kita, dan punya
alesan kuat kenapa bersikap kaya gitu.
Tiga: Menyajikan Realitas Kehidupan
Miranti,
fans drama Jepang lainnya nambahin, "Dalam drama Jepang nggak ada yang
hitam benar-benar hitam, yang putih benar-benar putih, selalu ada
alasan dibalik semua kejadian, dan menurut gw justru itulah yang
menggambarkan realitas sebenarnya. Emangnya ada gitu orang yang memang
dari lahir sudah jahat, yang nggak peduli sama kondisi sekitar, nggak
peduli ngelakuin apa asal tujuannya tercapai?
Atau
ada gitu orang yang kerjaanya nangisssss mlulu, yang kesannya pasrah,
padahal emang nggak niat mau ngapa-ngapain, males, maunya cuma
dikasihani doang, yang kesannya nggak punya energi untuk menyuarakan
pendapatnya sendiri?"
Yup,
mungkin ada, tapi kayanya kita lebih sering ngeliat orang jahat yang ga
kelihatan jahat atau justru orang baik yang ternyata ga sebaik yang
kita kira. Selain itu, kata Dian, "Yang lebih penting bagi gw sebenarnya pesen apa yang kita dapet sesudah kita nonton,"
Buat
kita-kita ini, nonton drama Jepang bukan cuma untuk dapetin hiburan,
tapi juga suntikan semangat akan hidup yang lagi kita jalanin. Kita
pingin selalu diingingetin untuk selalu hormat ama orang tua, untuk
selalu mendengarkan hati nurani, untuk selalu percaya akan sebuah value
kerja keras, yang rasanya lebih menentramkan daripada nonton tayangan
glamour yang kecil kemungkinan bakal terjadi dalam kehidupan kita. Itu
kita. Bagaimana dengan kamu?
Empat: Endingnya Ga Selalu Hepi, Just Like Our Life.
Drama
Jepang dikenal sebagai tontonan yang ga ragu-ragu ngasi sad-ending. Dia
ga takut mengecewakan penonton, malah yang ada, kita yang dibikin
penasaran bin deg-degan lantaran ga kebayang endingnya bakal kaya
gimana. Love 2000, God Give Me More Time (Kamisama) dan Sekai no chuushin de, ai o sakebu
adalah beberapa yang ga segan-segan menutup cerita secara tragis... dan
terbukti hal itu ga mempengaruhi tingginya rating drama-drama tersebut.
Kalau dipikir-pikir, hidup memang seperti itu. Ga selalu apa yang kita harepin terwujud. Kalau Kyoko ga meninggal di Beautiful Life, bukankah drama satu ini jadi terkesan dibuat-buat? Kalau Rika jadian ama Kanchi di Tokyo Love Story, apa bedanya drama ini dari drama percintaan biasa? Kalau Shunsuke ga buta di ending Itoshi Kimie, bukankah kita malah jadi bertanya-tanya, what's the point of the story? \
Hidup
ga selalu happy end... that's for sure. Dan hal ini yang bikin kita
merasa dekat ama drama Jepang. Hidup ga pernah sempurna, yang jadi
tugas kita: gimana caranya mensyukuri yang ga sempurna itu dan selalu
berusaha membuatnya jadi lebih baik dengan segenap usaha.
GANBATTE!
Itu sebuah kata yang selalu ada dalam setiap drama Jepang. Berusahalah
semaksimal mungkin dalam segala hal! Entah dalam percintaan, dalam
dunia sekolah, dalam pekerjaan... semuanya.
Lima: Belajar Mensyukuri Segala Hal
DL angkat topi buat film kaya Messengers,
yang berkisah soal petugas pengantar surat yang tugasnya nganter surat
dari satu kantor ke kantor lainnya. Bisa aja kisahnya dibikin jadi
kisah duka-lara tentang orang miskin yang saking miskinnya kepaksa jadi
pengantar surat... tapi di sini, yang diangkat adalah sisi positifnya;
value kerja keras, bangga pada pekerjaan yang dilakukan dan pantang
meng-underestimate orang lain dan pekerjaannya.
Di
drama Jepang, kita diajarin buat menghargai pekerjaan apapun yang kita
punya; bukannya terus-terusan mengeluh dan mengasihani diri sendiri.
Bekerja dengan hati, meski "cuma" jadi office lady (Matsu Takako di Love Generation), "cuma" jadi karyawan toko es krim (Kyoko Fukada di To Heart) atau "cuma" jadi petugas perpustakaan (Kyoko di Beautiful Life). Semua dilakuin dengan penuh kebanggaan: THIS IS MY JOB & I'LL DO MY BEST WITH IT.
Kenapa Drama Jepang Ga Booming di Indo...
Masih analisa Miranti,
yang menurut DL ada benarnya. "Dorama nggak terlalu booming di
Indonesia karena menurut gue, orang Indonesia belum terlalu bisa nerima
cerita yang biasa, yang simple, yang nggak neko-neko."
Bisa
jadi. Soalnya kalo dibedain ama tayangan Indonesia yang ratingnya
tinggi, drama Jepang bisa dibilang kontras banget. Drama Jepang
cenderung datar dan ga heboh. Yang dibahas cuma kisah sehari-hari.
Ditambah lagi, gaya bercerita Jepang cenderung halus dan dalem. Marah
ga dikasi liat dengan teriakan atau bantingan pintu. Sedih ga
diceritakan dengan tangis terisak-isak, seringkali hanya mata
berkaca-kaca atau pundak gemetar yang disorot dari belakang.
SekaChuu (Sekai no chuusin...), Kimi ga Kiete Kureta Koto (Things You Taught Me / From the Heart)
salah satunya. Kisah soal Mayuko yang autis ini diceritain super
halus... bahkan ketika hubungan Mayuko dan Shinichi ga disetujui, ga
ada kisah heboh soal 'kawin lari' atau 'bunuh diri bareng' sebagai
perwujudan cinta. Yang ada, keduanya tetep menjalani kehidupan
masing-masing dan pada akhirnya orang tua Mayuko mengenal Shinichi
lebih jauh lalu merestui hubungan keduanya. Memang ga segampang itu,
dan ga semua kisah berakhir seindah itu, tapi setidaknya drama Jepang
yang satu ini ngga selalu mengangkat cinta sebagai hal yang harus
disikapi berlebihan...
Di Ichi Ritoru no Namida,
Haruto yang baru mulai kuliah dikisahkan mundur teratur dari cintanya
pada Aya yang menderita sakit tak tersembuhkan, sebuah reaksi wajar,
bertentangan dengan sinetron jiplakannya yang menceritakan semangat si
tokoh utama pria menikahi Nayla (versi jiplakan Aya di doramanya), yang
akhirnya meninggal di hari pernikahannya... (gubragh! ups, gomen ^^)
Satu lagi yang perlu digarisbawahi dari drama Jepang: episodenya ga pernah dipanjang-panjangin. Setinggi
apapun rating drama itu, pantang bagi Jepang untuk melanjutkan cerita
dengan tambahan-tambahan yang ga seharusnya. Kalaupun ada sekuelnya,
drama Jepang biasanya sukses membuat sekuel yang ga kalah bagus ama
serial awalnya. Simak Under The Same Roof 2, Waterboys 2, Gokusen 2, Trick 2 (bahkan sampe Trick 3)
Kontras
dengan tayangan lokal kita kan? :D Mungkin itu sebabnya, sebagian dari
kita memilih rutin ngoleksi drama Jepang, meski harus kebakaran jenggot
hunting kesana-kemari, daripada nyalain TV dan nyimak tayangan-tayangan
di dalemnya... Gomenasai! :) |